Untuk petani
Masa simpan cabai diperpanjang signifikan dari 3–4 hari, mengakhiri forced selling. Informasi mutu realtime dan harga pasar membantu keputusan: kapan jual, kapan olah.
MAHASISWA UPN JOGJA · PKM-KC 2026
SaClay dikembangkan tim multidisiplin UPN Veteran Yogyakarta dalam skema PKM-KC 2026 yang menggabungkan Teknik Kimia dan Informatika untuk menjawab susut pascapanen cabai.
Ide dasar SaClay bukan dari nol. Sistem pot-in-pot dari tanah liat dikembangkan Mohammed Bah Abba, yang menemukan bahwa dua pot tanah liat dengan lapisan pasir basah di antaranya bisa mendinginkan isinya secara alami. Teknologi ini memenangkan Rolex Award dan terbukti di iklim kering.
Kelemahannya: sistem itu pasif, tanpa monitoring, dan kurang optimal di iklim lembap seperti Indonesia.
SaClay hadir sebagai evolusi aktif dengan tambahan kipas terkendali, sensor, dan machine learning agar bekerja di kondisi nyata petani Indonesia.

Program Studi Teknik Kimia · UPN Veteran Yogyakarta

S1 Teknik Kimia · Sistem evaporatif & koordinasi tim

S1 Teknik Kimia · Adminstrator & Humas

S1 Teknik Kimia · Publikasi, Media Sosial & Dokumentasi

S1 Informatika · IoT, Implementasi SVM & Integrasi Software

S1 Teknik Kimia · Design Engineer & Uji Fungsional
Masa simpan cabai diperpanjang signifikan dari 3–4 hari, mengakhiri forced selling. Informasi mutu realtime dan harga pasar membantu keputusan: kapan jual, kapan olah.
Data mutu dari banyak unit SaClay bisa membentuk peta kualitas cabai regional dan prediksi supply chain, mendorong adopsi IoT di level petani mikro yang selama ini tertinggal.
Dari fisika pendinginan hingga klasifikasi mutu machine learning.